Saya pernah mendengar satu lagu yang sering anak-anak PAUD nyanyikan yang berjudul Tepuk Islam, seperti ini liriknya:
Tepuk Islam (Prok..prok..prok)
Agamaku? (Prok..prok..prok) Islam
Tuhanku? (Prok..prok..prok) Allah
Nabiku? (Prok..prok..prok) Muhammad
Kitabku? (Prok..prok..prok) Al-Qur’an
Agamaku? (Prok..prok..prok) Islam
Tuhanku? (Prok..prok..prok) Allah
Nabiku? (Prok..prok..prok) Muhammad
Kitabku? (Prok..prok..prok) Al-Qur’an
Temanku? (Prok..prok..prok) Semua
Musuhku? (Prok..prok..prok) Setan
Musuhku? (Prok..prok..prok) Setan
Terdengar mereka sangat bersemangat ketika bernyanyi sembari bertepuk tangan mengikuti irama lagunya. Namun saya sangat menyayangkan satu hal yang sangat penting yang seharusnya tidak ada didalam lagu tersebut.
Dalam lirik terakhir yakni "Musuhku? (Prok..prok..prok) Setan", ada sesuatu yang seharusnya dihindari untuk disampaikan kepada anak-anak usia dini. Bukan soal benar atau salah pada tekstual lirik tersebut, namun lebih ke siapa yang menyenyikan lirik tersebut.
Esensi dari lirik tersebut menyiratkan bahwa musuh kita adalah setan, ini tidaklah salah. Namun perlu diingat bahwa kata "musuh" adalah sesuatu yang seharusnya dihindari untuk disampaikan pada anak usia dini. Dikarenakan mereka belumlah berada pada usia dimana mereka akan memahami makna lirik tersebut.
Saya lebih menitikberatkan pada kata musuh yang sarat makna kebencian didalamnya. Bisa dibayangkan saat usia dini mereka ditanamkan kata-kata sarat kebencian, kelak besar mereka akan seperti apa.
Disini saya hanya menginginkan pembelajaran dan permainan untuk anak-anak usia dini lebih mengedepankan pendidikan yang sarat akan hiburan yang menyenangkan, bukan hiburan yang mendidik kebencian.
Apakah salah? Bukankah mereka senang menyenyikannya? Jawabannya, tidak salah sepenuhnya dan memang mereka senang menyanyikannya. Tapi ingatlah, mereka tidak akan mengerti pada apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Apa yang ibu dan bapa guru ajarkan pasti akan selalu diterima dengan kepolosan. Dan kata bermakna negatif seperti "musuh", jangan sampai tertanam pada otak mereka. Kasihani masa depan mereka.
Nb.
Author : Imam Ahmad Turmudzi







